Tampilkan postingan dengan label Humor Hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Hukum. Tampilkan semua postingan

Kepolisian, ABRI, dan badan intelijen BIA saling menyombongkan bahwa merekalah yang terbaik dalam menangkap penjarah yang sedang marak saat sekarang. Pemerintah merasa perlu untuk melakukan tes terhadap hal ini. Dilepaskanlah seekor kelinci ke dalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus berusaha menangkapnya.


BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu. Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan itu. Tidak ada pelosok hutan yang tidak di interogasi. Setelah satu bulan penyelidikan hutan secara menyeluruh akhirnya BIA mengambil kesimpulan bahwa kelinci tersebut tidak pernah ada, alias hanya isu.


ABRI masuk ke hutan. Setelah satu bulan kerja tanpa hasil, mereka akhirnya kehilangan kesabaran dan membakar hutan sehingga setiap makhluk hidup didalamnya terpanggang tanpa terkecuali. Akhirnya kelinci tersebut diketemukan dalam kondisi hitam legam, mati... tentu saja.


Polisi masuk hutan. Dua jam kemudian, mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli.
Tikus putih itu berteriak-teriak :
"YA.... YA.... SAYA MENGAKU ! SAYA KELINCI ! SAYA KELINCI !"



Hadiah Untuk Prajurit

|

Seorang jendral di TNI AD memanggil 3 orang prajurit yang dianggap pahlawan setelah bertugas di Aceh.

Karena ini bukan benar-benar perang, saya tidak bisa memberi kalian medali. Tapi saya akan tetap memberi anda hadiah.


Yang harus kalian lakukan adalah menentukan dua titik di tubuh kalian, dan saya akan memberikan 100 ribu untuk tiap sentinya. Kita mulai dari kamu.

Aztech : "Dari ujung kepala ke ujung kaki , Pak."

Jendral : "Bagus, 180 senti, kamu mendapat 18 juta, lumayan untuk beli krupuk"


Lembayung : "Dari ujung jari kiri ke ujung jari kanan, Pak"

Jendral : "Bagus sekali, 185 senti, total 18,5 juta. Cukup buat beli cemilan"


Gerber : "Dari pundak ke kelingking, Pak"

Jendral : "Aneh, tapi baiklah."

Pada saat sang Jendral mulai mengukur, "Mana kelingkingmu, Nak?"

Gerber : "Di Aceh, Pak"



Surat Dari Narapidana

|

Ada seorang Aceh dari kabupaten Pidie, menulis surat ke anaknya yang ada dipenjara Nusa Kambangan karena dituduh terlibat GAM (Gerakan Aceh Merdeka).


Bunyinya: "Hasan, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, dan kamu ditahan di penjara pula, siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?"


Eh, anaknya membalas surat itu beberapa minggu kemudian. "Demi Tuhan, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana," kata si anak dalam surat itu.


Rupanya surat itu disensor pihak rumah tahanan, maka keesokan harinya setelah si bapak terima surat, datang satu peleton tentara dari kota Medan.


Tanpa banyak bicara mereka segera ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkul tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak tulis surat ke anaknya.


"Hasan, setelah bapak terima suratmu, datang satu peleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita, namun tanpa hasil. Apa yang harus bapak lakukan sekarang?"


Si anak kembali membalas surat tersebut, "Sekarang bapak mulai tanam jagung aja, kan udah dicangkul sama tentara, dan jangan lupa ngucapin terima kasih sama mereka."


Pihak rumah tahanan yang menyensor surat ini langsung pingsan.



Sidang Pembunuhan

|

Di suatu sidang pengadilan, Pak Hakim meminta terdakwa berdiri untuk mendengarkan tuntutan.


"Saudara didakwa membunuh seorang guru SMA dengan menggunakan gergaji mesin!" kata hakim. Dari deretan meja pengunjung terdengar seseorang berteriak, "Kurang ajaaarrr!!!"


"Harap tenang. Ini ruang sidang!" bentak hakim. Ia kemudian melanjutkan tuntutannya, "Saudara juga didakwa melakukan pembunuhan terhadap seorang loper koran dengan menggunakan sekop!"


"Bajingannnnn!!!" teriak pengunjung yang tadi. "Tenang, harap tenang!" teriak hakim nggak kalah kerasnya.


"Selanjutnya, saudara terdakwa juga dituduh melakukan pembunuhan terhadap seorang tukang pos dengan menggunakan bor listrik!" kata hakim sambil memandangi terdakwa. "Keparatttt!!!!" teriak pengunjung tadi tanpa bisa ditahan.


Dengan geram hakim berkata kepada pengunjung yang selalu berteriak ini, "Jika anda tidak bisa memberikan alasan kenapa berulah seperti ini, maka saya akan mendudukkan anda di kursi pesakitan dengan tuduhan menghina pengadilan!"


"Saya adalah tetangga terdakwa selama sepuluh tahun terakhir, Pak Hakim. Dan setiap kali saya ingin meminjam gergaji, bor, atau sekop, dia selalu bilang nggak punya!"


Trik Supaya Tidak Ditilang

|

Seorang Polantas menghentikan mobil seorang pria yang ngebut dengan kecepatan tinggi menerobos lampu merah, dan bermaksud menilangnya.


Polantas: "Selamat malam Pak. Tolong lihat SIM-nya."


Pria: "Wah, nggak ada Pak. SIM saya sudah dicabut gara² terlalu sering ditilang."


Polantas: (Menyeringai) "Oya..? Kalau begitu, tolong perlihatkan STNK-nya."


Pria: "Nggak punya Pak. Soalnya ini bukan mobil saya. Ini mobil hasil curian."


Polantas: "Mobil curian?"


Pria: "Benar Pak. Tapi, tunggu sebentar. Kalau nggak salah ingat, saya lihat ada STNK di kotak perkakas di jok belakang waktu saya menyimpan pistol saya di sana."


Polantas: "Hah...? Ada pistol di kotak perkakas?"


Pria: "Iya Pak. Saya menaruh pistol saya di sana ketika saya selesai merampok dan membunuh seorang wanita dan menaruh mayatnya di bagasi."


Polantas: "Ada MAYAT di BAGASI...?"


Pria: (Dengan muka dingin) "Iya Pak..."


Mendengar demikian, dengan panik si Polantas menelepon atasannya yang kemudian menghubungi Kapolda. Tidak berapa lama kemudian, mobil itu segera dikepung oleh mobil² polisi dan Kapolda mendekati si pria sambil memintanya untuk tetap tenang.


Kapolda: "Boleh saya lihat SIM Anda, Pak?"


Pria: "Oh, tentu." (SIM-nya masih berlaku dan resmi)


Kapolda: "Mobil siapa ini?"


Pria: "Mobil saya Pak. Ini STNK saya." (Juga masih berlaku)


Kapolda: "Boleh Anda buka kotak perkakas dengan perlahan dan tunjukkan kepada saya pistol Anda di sana?"


Pria: "Tentu saja Pak, tapi tidak ada pistol di sana."
(Tentu saja, memang tidak ada pistol di sana)


Kapolda: "Hmm.. kalau begitu, boleh tolong buka bagasinya? Saya mendapat laporan bahwa ada mayat di sana."


Pria: "Baik Pak..." (Bagasi dibuka dan memang tidak ada mayat di sana.)


Kapolda: "Saya tidak mengerti. Petugas yang menghentikan mobil Bapak mengatakan bahwa Bapak tidak mempunyai SIM, mencuri mobil ini, punya pistol di kotak perkakas, habis merampok dan membawa mayat di bagasi."


Pria: "Oh, begitukah ceritanya...? Saya yakin si pembohong besar itu juga mengatakan kepada Bapak bahwa saya ngebut melanggar lampu merah..."